Share |

Arloji

Kepulangan saya kembali ke kota kelahiran kali ini sama sekali tidak memberi perubahan. Mulai dari bentuk tubuh, tinggi badan atau hal-hal lain yang lebih baik lagi. Lalu kenapa saya sekarang harus pulang? Tak banyak yang bisa saya katakan. Karena jawabnya cuma satu : “keharusan”. Tak kurang dan tak lebih. Tak ada yang lain. Yeah, tak ada yang lain.

Sekarang saya sudah sampai di halte. Agak lama juga saya menunggu. Setelah mikrolet yang saya tunggu datang saya bergegas naik dan langsung menjejal ke sudut. Saya lirik kiri-kanan. Lumayan, ada seraut wajah cantik di situ. Tubuhnya langsing dibalut blazer warna coklat tua. Kulitnya putih dan rambutnya dicat kemerah-merahan. Bau wangi parfumnya menusuk. Sebelah lainnya lagi seorang lelaki tua. Mulutnya mengepulkan asap rokok. Kelihatan sekali dia sama sekali tak menghiraukan meski tetangga sebelah menutup hidung atau mengibaskan tangan, terganggu asapnya seperti kabut bergumpal. Begitu matanya beradu pandang dia tersenyum kepada saya. Saya membalasnya. Dia menawari saya rokok.

“Rokok?”

Saya tersenyum, menolak.

“Turun di mana?”

“Ponderos.”

“Terminal?”

“Yak!”

Dimatikan batang rokoknya yang sudah habis. Saya gunakan kesempatan melirik sejenak perempuan cantik di depan saya sambil pura-pura batuk. Berpura-pura terganggu dengan asap rokok. Tiga orang lelaki, ibu-ibu termasuk juga perempuan cantik itu turun. Seorang lelaki naik. Tapi, di depan saya ada juga yang turun. Saya senang karena tempatnya menjadi longgar. Kaki saya bisa dipanjangkan. Pandangan saya masih mengikuti perempuan cantik itu. Dia menghadang taksi dan segera menghilang. Kini di dalam mobil hanya ada empat orang.

Saya melihat keluar. Tidak ada perubahan. Sama sekali tidak ada perubahan. Kota saya, Libresso masih seperti yang dulu. Bising, kumuh, macet dan hiruk pikuk. Saya jadi ingat seloroh seorang teman : bukan Libresso namanya kalau tidak macet.

“Pos polisi?” tanya lelaki tua yang menawari saya rokok.

“Sebentar lagi!” sahut sopir.

“Turun di sini saja!”

Mobil berjalan lambat seperti keong. Ketika mobil mulai memasuki Terminal Ponderos saya bergegas. Terseok-seok saya mengangkut ransel. Seingat saya Terminal Ponderos penuh dengan penodong. Wah, untuk urusan satu ini saya harus waspada. Semoga tidak terjadi apa-apa. Ransel saya entah kenapa terasa semakin berat. Padahal saya tidak banyak membawa barang. Yeah, mungkin karena saya sudah terlalu lelah dalam perjalanan di kereta. Belum menyambung lagi dengan kendaraan bis dan mikrolet.

Sambil mengatur nafas dan menghapus keringat saya berjalan. Tiba-tiba ada bayangan. Saya ragu. Penodongkah? Tanpa sadar saya gemetar. Jalan saya percepat. Bayangan itu melintas cepat. Sekarang dia ada di depan saya. Ternyata lelaki yang turun terakhir dari mikrolet.

“Mas, Mas! Tunggu sebentar!”Saya berhenti. Haruskah saya sisakan waktu? Bagaimana kalau dia berbuat jahat? Bagaimana kalau dia benar-benar penodong? Bagaimana kalau...

“Mas?”

“Ya?”

“Maaf, mengganggu sebentar. Mas mau beli?”

“Beli apa?”

“Ini...”

Lelaki itu termenung sebentar. Matanya menghindar dari tatapan setiap orang yang lalu lalang. Dia ambil sesuatu dari balik sarungnya. Sebuah arloji.

“Harganya murah, murah sekali kok, Mas.”

“Maaf, saya tidak butuh arloji.”

“Ini arloji bagus, Mas. Arloji...”

Dia sebutkan sebuah merk. Merk mahal dan terkenal. Arloji itu memang bagus. Terbungkus plastik. Warnanya berkilat-kilat. Tapi saya curiga. Arloji mahal dan sebagus itu kenapa hanya dibungkus plastik? Bukankah barang sebagus itu biasanya terbungkus dalam kotak pembungkus dari pabrik atau tokonya lengkap dengan merk di atasnya?

Mata saya meneliti wajah lelaki pemilik arloji. Wajah itu. Ya, wajah itu. Wajah penuh kecemasan. Wajah yang selalu berusaha menghindar.

“Tidak ada surat-suratnya?”

“Nggg...oh...eh...”

Dia resah. “Kamu pencuri ya?”

“Buk...bukan! Saya...saya...bukan pencuri! Ini...ini...bonnya. Sumpah, baru kemarin saya membelinya!”

Dia keluarkan kertas bon dari saku dan langsung diperlihatkannya kepada saya.

“Akh, alasan! Kamu kan bisa bikin sendiri!”

Lelaki itu diam. Wajahnya berubah pucat.

“Sudahlah, saya mau pergi. Maaf, saya tidak butuh arloji.”

“Tunggu sebentar....tunggulah sebentar...saya...”

“Ya?”

“Saya...ngg....”

“Apa? Saya tidak butuh arloji.”

‘Tolonglah saya, Mas. Baiklah saya mengaku. Saya mencuri karena terpaksa. Anak saya, isteri saya, saya sendiri...”

“Bohong!”

“Betul itu, alasan saya melakukan pencurian....”

“Alaah, kamu memang dasarnya pencuri! Atau menjambret? Menjambret di bis ya? Mikrolet?”

“Sungguh mati. Berani sumpah saya tidak menjambret!”

“Berapa kali mencuri?” tanya saya bak menginterogasi.

“Maaf. Saya sungguh tidak mengingatnya. Waktu kecil saya memang pernah mencuri uang ibu saya. Sekarang....”

Wajah itu berubah lebih pucat. Tangannya gemetar.

“O, o jadi situ mencuri sebagai pekerjaan? Wah, wah hukumannya berat!”

“Tapi...”

“Sudahlah. Tawari saja orang lain. Saya tidak berminat!”

“Mas sungguh tidak mau beli?”

“Saya tidak bisa membeli arlojimu. Apalagi ini barang curian.”

“Tapi saya kan sudah mengaku? Hanya kepada Mas saya mengaku pencuri. Saya merasa Mas mau menolong saya. Menolong dengan membeli arloji. Bayarlah berapa saja asal saya dapat uang. Tolonglah, anak saya belum makan.”

“Dari mana kamu dapat arloji itu? Menjambret di bis? Di pasar?”

“Bukan, bukan. Saya bukan menjambret. Saya mencuri di toko seberang jalan itu...”

“Kok bisa?”

“Itulah. Saya sering baca di koran tentang wanita yang banyak mencuri di toko. Barang curian disembunyikan di dalam rok atau pakaian bawah. Diselipkan di antara paha. Kalau saya memakai sarung. Arloji saya selipkan di antara paha...”

“Kalau situ mencuri kok ngaku?”

“Bagaimana ya? Saya merasa Mas bisa menolong saya meski ...”

“Meski apa?”

“Meski saya mengaku mencuri saya hanya merasa Mas bisa menolong saya.”

“Kalau saya tidak punya uang?”

“Bujangan seperti Mas pasti punya uang. Tolonglah, Mas. Saya sudah kepepet.”

“Sok tahu! Situ kok yakin sekali saya punya uang?”

“Nggg...saya....saya sudah putus asa tidak tahu harus berbuat apa. Sekali lagi kasihanilah saya, Mas. Anak saya belum makan.”

Wajahnya memelas.

“Coba saya lihat dulu.”

“Jadi Mas berani bayar berapa?”

“Lho, sampeyan ini bagaimana sih? Boleh dong lihat dulu. Kan saya yang beli?”

Saya pikir tak ada salahnya melihat-lihat arloji itu. Arloji itu memang bagus. Tali pergelangannya berkilat-kilat. Merk terkenal lagi. Kalaupun arloji palsu seperti yang dijual di kaki lima itu toh tidak apa-apa, pikir saya. Lumayan buat gaya. Buat ganti-ganti. Atau sekalian saja buat hadiah? Hehehehehe.....

“Gimana, Mas? Belilah, Mas. Saya harus lari sebelum mereka sadar!”

Saya kembalikan jam tangan itu.

“Larilah!”

“Anak saya?”

“Anakmu? Ya, uruslah sendiri!”

“Mas kasihanilah saya Mas. Saya terpaksa mencuri biar di neraka saya yang nanggung dosanya. Mas adalah satu-satunya penolong yang saya harapkan dalam urusan saya ini. Sayalah yang berdosa.”

Orang ini jujur, batin saya. Banyak maling apalagi koruptor tidak mau mengaku. Tapi orang ini tidak.

“Kamu jujur.”

Matanya terbelalak. Dia tidak menduga dirinya dipuji jujur.

“Saya orang bodoh, Mas. Bukan jujur. Saya jujur karena saya bodoh.”

“Dengan berkata tidak jujur kamu malah jujur.”

“Alhamdullilah. Jadi beneran Mas mau beli?”

“Nanti dulu. Berapa harganya?”

“Jadi Mas berani bayar berapa?”

“Lho, kok nantang?”

Saya sebutkan penawaran saya. Dia tidak setuju. Saya segera berlalu. Lha, wong mau dikasih duit masih nggak mau juga. Sontoloyo! Dia tahan saya. Mungkin batinnya mengutuk saya pelit. Mungkin dia pasrah karena arloji itu barang curian. Betul juga. Akhirnya dia menyerah.

“Jadi ya ?”

“Jadi!”

Saya mengambil duit. Sekarang arloji pindah tangan.

“Aduh, terimakasih, terimakasih Mas. Setelah ini saya mau sembahyang minta ampun kepada Tuhan. Sebelum Mas pergi maukah Mas berdoa supaya uang yang saya terima bukan uang palsu?”

“Wah, situ menghina ya?”

“Bukan menghina. Maklumlah sekarang banyak beredar uang palsu....”

“Katanya situ mau lari?”

“Oh, eh....maksud saya...saya mau minta tambahan daripada harus nyolong lagi...”

“Lho, lho, lho mau mencuri lagi?”

“Kan saya masih punya sarung?”

“Terserah! Sudah ya, saya mau pergi!”

Saya berlalu. Bergegas menuju pangkalan ojek. Langit bergemuruh. Gerimis. Saya percepat langkah setengah berlari. Tapi sebelum saya sampai terdengar dari kejauhan teriakan minta tolong yang kacau. Saya tak menghiraukan apa yang terjadi. Pokoknya saya harus cepat sampai.

“Mas, Mas...”

Saya tak peduli. Orang di belakang itu nampaknya terus mengikuti saya. Tiba-tiba langkah saya tertahan. Dua orang lelaki di depan. Badannya tinggi besar, menyeramkan. Dalam hati saya mengeluh, ah, kenapa harus terjadi? Ada yang menepuk pundak saya. Lelaki yang tadi menawarkan arloji. Matanya kini buas, penuh persiapan memandang saya. Sesuatu berkilat-kilat dikeluarkan dari balik sarungnya. O, bukan, bukan. Kali ini dia tak lagi menawarkan arloji. Dia memberi isyarat kepada dua lelaki besar di depan saya. Saya mengerti. Apa boleh buat, saya harus menghadapi permainan ini.

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

infolink

My Headlines

Tukar Link

KITA COMMUNITY

Followers

Fartner