Share |

Tempat sampah yang terkunci

Entah kenapa, begitu banyak orang suka mencurahkan isi hatinya padaku. Bisa berjam-jam bahkan seharian penuh. Kebanyakan cerita sedih, jarang sekali mereka cerita hal-hal yang membahagiakan. Mereka tertawa getir, menangis, teriak, marah, bahkan ada yang hampir bunuh diri di depanku.

Mereka bilang aku seorang pendengar yang baik. Ah, tak juga kupikir. Beberapa orang, sering kutinggal main game atau bahkan tidur. Tapi tetap saja mereka tak berhenti bicara. Katanya, dengan melihat wajahku saja, bisa membuat mereka tenang.

Bisa dibilang, aku ini seperti tempat sampah. Mereka suka sekali membuang rasa padaku. Tapi tempat sampah ini terkunci, aku tak bisa membuang tumpukan sampah yang kadangkala membebani hatiku. Karena “Ini rahasia, jangan bilang siapa-siapa,” kata mereka.

Satu orang yang rutin datang padaku, adalah Ta. Seminggu sekali, bahkan kadang tiga kali seminggu, jika dia sedang stress berat. Bagiku, dia adalah orang paling pesimis yang kukenal. Matanya acapkali sayu, dengan muka pucat tak bercahaya. Senyumnya seringkali getir. Jarang kulihat dia bisa tertawa lepas.

“Aku nggak pernah bahagia,” kata Ta, suatu ketika.

Aku tersenyum. Tak tahu harus bilang apa. Kutunggu keluhan selanjutnya darinya.

“Roda itu terus berputar nggak sih?” tanyanya.

Dahiku mengkerut tak mengerti. “Yah, kalau macet, ya nggak berputar,” jawabku asal.

“Nah, roda kehidupanku selalu macet. Aku selalu di bawah. Dari dulu sampai sekarang!” ucapnya sambil menghela nafas, sebelum kemudian mulutnya terus bergerak, mengeluarkan rentetan kalimat menyedihkan.
Dan seperti biasa, aku akan memberikannya serangkaian kalimat motivasi, memainkan lagu penambah semangat, dan menepuk punggungnya pelan. Kemudian dia tersenyum, lalu pulang tanpa berterima kasih.
“Bermimpilah, Ta. Biar roda kehidupanmu tak lagi macet.”
****

Entah apa yang sedang terjadi dengan Ta. Sudah seminggu, dia datang padaku setiap hari. Tak bercerita, hanya diam membatu di depanku.

Siang itu, ketika aku sedang asyik membaca, dia datang dengan tubuh penuh keringat. Bajunya basah. Dia duduk di depanku. Lalu diam.
“Kenapa?” tanyaku, tanpa mengalihkan mata dari barisan huruf dalam buku.
Lagi, dia diam. Tak bergeming. Selama hampir setengah jam, dia tak berkata. Lalu pergi tanpa pamit.
****

Kadangkala aku merasa penat, mendengar curhatan orang setiap kali. Menjamu mereka dengan muka ceria, memberi semangat, dan berpura-pura empati dengan masalah mereka. Aku paling tak suka kalau harus mendengar cerita soal cinta. Rata-rata, masalahnya sederhana. Hanya salah paham, atau tak mau saling memahami. Tapi mereka bumbui dengan hiperbolis, alhasil semuanya jadi terasa rumit.

Kali ini, Chan datang dengan mata sembab. Seketika dia memelukku, sambil menangis.

Ah, tangis. Sebenarnya aku membencinya. Kenapa manusia sangat suka menangis? Bukankah tak enak rasanya? Didahului dengan rasa sesak memenuhi seluruh rongga. Tak bisa bernapas. Pundak berat. Muka dan mata panas. Lalu mata mulai dipenuhi butiran air mata. Berkaca-kaca. Ketika butiran itu meleleh, dada masih saja sesak. Masalah yang didera lebih terasa menyakitkan. Logika pun mati. Tangis hadir tanpa pernah memberi solusi.

Tangis, bagiku adalah proses dramatisasi diri. Memperbesar masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan logika. Apalagi, setelah menangis, mata menjadi merah. Sembab. Bengkak. Tak nyaman, rasanya. Dan tangis tak pernah membuatku merasa lega.

Pikiranku melayang, tanpa memperdulikan Chan yang terus menangis di atas bahuku.
“Orangtuaku bercerai.” katanya lirih.
Kulepas pelukannya. Kubuatkan secangkir cokelat panas. Cokelat akan memberinya sensasi relaksasi.

“Kau selalu tahu, apa yang kubutuhkan,” Chan tersenyum. Dia masih sesenggukan. Napasnya patah-patah. Ingus pun tak berhenti meleleh dari dalam hidungnya. Terbukti kalau tangis tak pernah memberi rasa nyaman.

Belum sempat Chan menumpahkan isi hatinya, Ta datang. Dia berdiri diantara kami. Dengan muka datar, ditariknya tanganku, memaksaku mengikuti langkahnya, menaiki tangga menuju loteng rumahku.
” Chan, tunggu sebentar ya,” teriakku. “Hey, apa-apaan sih, Ta? Kalau mau cerita, nanti aja. Chan lagi curhat.”

Ah, mungkin sebaiknya aku buka praktek, jasa terima curhat. Enak, dapat duit. Tak seperti sekarang, orang datang, berkeluh-kesah, lalu pergi. Setiap waktu, hingga aku tak punya privasi. Apalagi ini malam minggu. Waktunya aku bersantai di rumah, dan bergelut dengan pikiranku sendiri, bukan dengan orang lain.

Sesampai di loteng, Ta menatapku tajam.
“Apa nasib bisa diubah?” tanyanya.
“Bisa.”
“Tapi kenapa, aku tak bisa merubah nasibku? Kenapa aku selalu berperan sebagai aktor miskin, pengangguran, dan kehilangan semuanya. Cinta, orang tua, harga diri, cita-cita. Hilang semuanya. Omong kosong dengan impian! Bukankah tak perlu ada impian, jika nasibku telah ditentukan?” Ta setengah berteriak.

Kupandang matanya yang semakin sayu. Semburat kekalutan terukir di wajahnya. Pundaknya gemetar.

“Jawab, Nin!” teriaknya.

“Dengar, Ta! Aku muak dengan segala problemamu. Kau pikir aku ini seorang motivator atau psikolog? Kau datang setiap waktu, berteriak, mengeluh, bilang tak bahagia, dan bla, bla, bla!”

“Aku memang tak pernah bahagia! Aku juga muak dengan omonganmu tentang impian. Kau bilang, aku harus punya impian, biar bisa merubah roda nasib. Tapi mana buktinya? Impian, hanya membuatku keluar dari realitas. Angan-angan tak berguna! Nonsense!”

“Berhenti membangun impian. Berhenti berusaha mengubah nasibmu. Berhenti mencari kebahagiaan. Kalau itu maumu, berhentilah hidup.”
****

Sayang, hidupkulah yang berhenti. Dan mereka tak pernah membiarkanku mati dengan tenang. Aku menangis. Tapi dadaku tak sesak, mataku tak sembab, ingusku tak meleleh, napasku tak patah-patah. Ah, namun tetap saja, tangis ini tak memberi solusi. Aku telah berpisah dengan raga. Jiwa ini kini sendiri.
****

Mereka memang sudah gila. Tempat sampah kini telah mati. Tapi kenapa, mereka tetap saja datang padaku? Menangis, mengeluh, dan menuturkan cerita sedih di atas nisanku. Termasuk Ta. Dia datang. Berjongkok sambil meremas tanah yang telah mengubur tubuhku.

“Aku iri padamu, Nin! Dari dulu. Kau selalu ceria, penuh semangat, kreatif, visioner,dan membumi. Ketika kau melangkah di atas awan, aku masih saja merangkak di selokan. Kau selalu mendapatkan apa yang kau inginkan. Bahkan sekarang, ketika aku menginginkan kematian, kau yang lebih dulu mendapatkannya.”
“Kau pikir aku menginginkan kematian? Dasar bodoh!”
****

Ta selalu saja datang. Seminggu sekali. Dia masih saja bicara soal kehidupannya, nasib jeleknya, dan lagi, soal hatinya yang tak bahagia. Aku tak pernah mengerti, apa tak ada tempat sampah lain di luar sana, selain diriku? Hey, Bung! aku ini sudah mati. Aku tak lagi bisa memberimu motivasi, memainkanmu lagi penyemangat, ataupun menepuk pungggungmu. Tak pernah bisa. Meskipun ingin.
****

Sudah dua tahun, aku menunggumu datang. Apakah kamu juga sudah mati? Ah, Ta. Jangan kau buat aku gelisah seperti ini. Beri aku kabar. Tempat sampah merindukanmu.
****

Dia datang! Matanya tak lagi sayu. Wajahnya tak lagi pucat. Senyum mengembang. Syukurlah, kamu belum mati. Dia berjongkok. Matanya tajam dan dalam, seakan menatap mataku.

“Nin, maafkan aku. Lihat, aku bahagia sekarang.” Ta merentangkan kedua tangannya sambil tertawa kecil.

“Yah, aku memang masih miskin, kerja serabutan, dan juga belum punya pacar.” ujarnya riang. “Dan aku juga belum mati.”

“Aku selalu teringat kenangan ketika kau masih hidup. Tiga kali seminggu aku datang padamu, dengan segudang curhatan menyebalkan. Kau pasti bosan, muak, dan benci padaku. Tapi aku selalu datang. Kau tau kenapa?”

“Setelah bertemu denganmu, aku punya rasa lega di dalam dada. Tapi aku bodoh, tak punya definisi soal rasa. Ketika kudengungkan soal tak bahagia, sebenarnya aku hanya tak mengerti seperti apa rasanya bahagia.”

“Rasa lega setelah bertemu dan berkeluh kesah padamu, akhirnya kudefinisikan. Itu rasa bahagia. Oh, kau pasti bingung dengan semua kalimatku.”

“Aku bahagia telah mengenalmu. Itu saja.” Dia tersenyum.

Aku terhenyak. Memandangnya dengan kaku.

“Dua tahun, aku iseng mencari manusia-manusia yang dulu suka mencurahkan rasa padamu. Yah, kami memang jahat. Membuatmu seperti tempat sampah atas segala rasa kami. Dan kau biarkan mulutmu terkunci. Tak pernah kau bongkar rahasia kami.”

“Kau tahu, bagi kami, kau bukan tempat sampah. Kau selalu bisa menerima kami. Menepuk punggung lelah kami, membuatkan cokelat panas, memainkan lagu, menyediakan sapu tangan penghapus air mata, hingga membiarkan kami tertidur di rumahmu. Kau memberi kami semangat untuk bangkit. Kau adalah inspirasi. Salah satu sumber kebahagian kami.”

Aku menangis. Tapi dadaku tak sesak, mataku tak sembab, ingusku tak meleleh, napasku tak patah-patah. Dan jelas, air mataku tak mengalir. Tapi aku tahu aku menangis. Akhirnya, tangis ini membuatku merasa lega. Tangis ini membuatku merasa nyaman.

Dan aku bahagia. Itu saja.
****

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

infolink

My Headlines

Tukar Link

KITA COMMUNITY

Followers

Fartner